Semilir
angin mengelus pipiku. Kupandangi siluet
matahari senja yang mulai pulang ke peraduan. Hamparan danau didepan mata
membawaku pada kenangan masa
lalu. Ya, kenangan sepuluh tahun silam. Kala itu aku dan adikku serta seorang temannya
berlibur mengisi liburan semester ke Maninjau ini. Desa nan asri, desa
kelahiran ibuku.
“Nek,
kami bermain dulu ya ” seruku pada nenek yang tengah memasak di dapur.
Maka
pergilah aku , adikku Danang , temannya
yang bernama Andi ke sawah . Kami
berlarian dan memburu belut dengan semangat yang begitu menggebu. Cipratan
lumpur tak terelakkan. Seluruh tubuh telah bermandikan lumpur. Kami tak peduli.
Berhiaskan canda tawa, hal itu begitu kami nikmati. Andi sangat bersemangat,
karena ini adalah kali pertamanya menangkap belut. Sedangkan kami sudah
terhitung beberapa kali, saat pulang kampung. Ia masih belum terlalu mahir,
tapi agaknya ia sangat senang.
“
Aku dapat dua belut sekaligus” teriak Danang girang.
“ Wah, hebat ya. Aku masih belum nih “ keluh
Andi.
“
Heei, aku juga dapat satu ekor ! “ pamerku.
Danang
mendapat belut paling banyak. Ia berhasil menangkap sebelas ekor belut. Dia
memang ulet. Aku mendapat enam ekor. Sementara Andi hanya tiga ekor, namun
menurutku itu adalah sebuah permulaan yang bagus. Kami berhasil mengantongi dua
puluh ekor belut. Hmm, sudah terbayang lezatnya belut goreng di benakku. Saliva
memenuhi rongga mulutku. Kupandangi Danang dan Andi. Tampaknya mereka
memikirkan hal yang sama denganku.
Tapi
, Hei ! Mereka berdua terlihat begitu kumuh. Aku terkekeh. Benar, tak hanya
mereka saja. Aku tidak berbeda dengan mereka berdua. Lumpur dimana-mana. Bau
juga mulai menyeruak hidung.
“Kau
siapa? Manusia lumpur dari planet zombie ya?” cemoohku pada Danang.
“
Kau salah. Aku adalah Superman yang terperosok ke sawah saat menumpas
kejahatan” balas Danang dengan irama yang lucu.
Kami tergelak.
Setelah
berlelah-lelah menangkap belut disawah, kami merebahkan diri di sebuah pondok
sejenak. Aku memandangi alam sekitar. Mata ini begitu dimanjakan oleh
pemandangan yang sangat indah. Hamparan sawah hijau terbentang, tak jauh nampak
pula danau Maninjau yang luar biasa indah. Aku terkesima. Betapa agungnya sang
Pencipta semua ini. Angin sepoi-sepoi berhembus. Sejuk nian. Apalagi raga ini
lelah. Aku yakin, pastilah juga begitu yang dirasakan Danang dan Andi. Rasa
lelah ditingkahi hembusan angin membuat mata merajuk. Akhirnya kami bertiga
terlelap pulas.
Saat
terjaga, hari mulai temaram. Kami bergegas pulang. Jangan sampai tak jadi
menikmati belut-belut yang sudah pasti lezat ini. Setibanya kami dirumah, kami
disambut Nenek dengan beberapa pisang goreng dan teh hangat. Sembari menunggu
belut diolah, kami menikmati panganan dari Nenek. Setelah beberapa saat
menunggu, akhirnya hidangan yang ditunggu- tunggu datang juga. Aku tak sabar
segera melahap belut yang tampak crispy. Apalagi
ada pucuak ubi dan samba lado tokok jariang sebagai teman
si belut. Sungguh perpaduan yang sempurna. Hmmm
Esok
hari kami berencana mendaki gunung.
Rasanya tak afdhal kalau libur tak
diisi dengan sesuatu yang menantang. Kapan lagi kami merasakan liburan yang
berbeda. Jam demi jam pun berlalu. Maka berangkatlah kami ke Koto Baru untuk
memulai pendakian kami. Hari sudah temaram ,dan setelah melapor kepada petugas,
kami mulai mengayunkan kaki menuju puncak Marapi. Aku berjalan paling depan,
karena hanya aku yang pernah mendaki gunung ini sebelumnya, aku didaulat
sebagai pemimpin perjalanan kelompok kecil kami.
Setapak
demi setapak badan gunung kami jajaki. Persaan kami bercampur baur. Ada
semangat yang masih menggelora, ada rasa tegang, ada pula rasa penasaran
melihat matahari terbit di puncak gunung. Yang terakhir ini perasaan Andi dan
Danang. Yap, aku sudah pernah menyaksikan hal elok ini dulu. Empat jam sudah
kami berjalan. Capai juga rasanya. Kami putuskan untuk beristirahat. Tenda
berdiri. Kami membuat api unggun dan mamasak mi instan. Cukup untuk mengganjal
perut yang lapar. Saat sedang asyik bersantap, tiba-tiba beberapa ekor tikus
lewat di hadapan kami. Terkejut rasanya.Di tempat setinggi dan sedingin ini ada
tikus yang lewat. Bulu kudukku meremang. Sudahlah, kami harus selalu berpikir
positif.
Setelah
perut terasa kenyang dan badan cukup segar kembali, kami lanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan entah mengapa keisengan si Andi muncul di saat yang tidak
tepat. Ia melempar pisau ke sebuah batang pohon. Tak dinyana, pisau itu
berbalik. Untung tak mengenai kepalanya. Kami beristighfar. Susana terasa mencekam.
Namun demi mencapai target yakni sang
puncak, kami tetap melanjutkan perjalanan.
Cukup
lama berjalan , akhirnya kami sampai di batu cadas. Medan ini lumayan sulit.
Butuh kehati-hatian. Setelah sukses melewati rintangan yang satu ini, kami
kembali melanjutkan perjalanan. Semangat kami naik berkali lipat daripada
sebelumnya. Betapa tidak, beberapa saat lagi kami akan sampai di puncak Marapi.
Detik , menit berlalu. Akhirnya,setengah jam dari batu cadas tibalah kami di
puncak. Fajar menyingsing. Kami saksikan matahari terbit demikian eloknya.
Menyembul malu-malu memancarkan rona merahnya. Subhanallah. Sangat indah.
Rasanya keletihan kami terbayar sudah. Ketika waktu subuh masuk, kami sholat
subuh disini. Ya, di puncak sang Merapi. Nikmat nian rasanya.
Bumi
Sumatera Barat begitu indah dilihat dari ketinggian 2.891 m ini. Seindah
lukisan yang kini menjadi nyata. Momen ini tak kami sia-siakan. Kami sempatkan
mengabadikan keindahan alam ciptaan Nya. Tak lupa , kami potret juga bunga
legendaris gunung berapi. Bunga edelweis. Kami juga memetik beberapa tangkai
untuk dibawa pulang. Sekedar kenangan dari
gunung api ini.
Setelah
puas memanjakan mata dan berkodak,
kami segera pulang. Berjam-jam berjalan, akhirnya kami tiba jua dibawah. Kami
singgah di sebuah lapau kecil. Sembari
meneguk segelas teh hangt , Andi bercerita.
“saat
mendaki gunung tadi, aku melihat orang bermuka rata”
“aku
juga melihat orang melintas “ celetuk Danang.
Aku terkejut. Ternyata hanya aku yang
tidak mengalami hal aneh semacam itu. Syukurlah. Namun setidaknya hal tersebut
dapat menjadi pelajaran bagi mereka berdua. Bersikaplah layaknya tamu bilamana
pergi ke tempat asing. Jangan pernah iseng di tempat yang bukan tempat untuk
iseng.
Tak
terasa sudah empat hari liburan kami
berlalu. Hari ini kami mandi ke danau. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Kami
puaskan dahaga bermain air disini. Air bercipratan kemana-mana. Salto dan
mencebur ke air juga tak ketinggalan kami lakoni. Danang belum puas. Ia mencari
batu yang lebih tinggi untuk meloncat. Setelah dirasa mendapat ketinggian yang
cocok, ia melompat. Namun, ia belum juga muncul ke permukaan. Beberapa detik
berlalu. Apakah Danang bercanda? Menit akhirnya lewat. Darahku serasa hilang.
Aku dan Andi segera mencarinya. Kemana Danang?
Setelah
setengah jam mencari , akhirnya kami menemukannya. Ia begitu pucat. Cemasku
sudah sampai di ubun-ubun. Air mata mulai membanjiri pipiku. Sesak rasanya. Untung
tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak. Ternyata Danang adikku tercinta tidak tertolong. Aku tak habis pikir,
mengapa hal seperti itu dapat merenggut nyawanya. Kisahku mengarungi hidup
bersama sang adik berakhir disini. Duka menyeruak batinku. Tapi, apalah dayaku.
Mungkin ini takdir sang illahi. Menjemput adik semata wayangku di beningnya
danau Maninjau.
Ya,
persis di tempat ku duduk kinilah dulu aku menangisi kepergian adikku. Sepuluh tahun silam. Air
mata jatuh tak dapat ku cegah. Tak sedikitpun terbersit firasat buruk. Aku tak
menyangka, liburan kami yang punya banyak cerita berakhir petaka. Aku kehilangan
embunku. Penyejuk hidupku. Teman suka duka ku. Saudara serahim. Ah, rasanya
ingin kuputar waktu untuk merubah sejarah sepuluh tahun lalu. Namun, sampai
kapan pun hal itu tak dapat terjadi . Mungkin ikhlas adalah jalan terbaik.
Selamat jalan adikku sayang. Di tepian danau ini ku panjatkan do’a untukmu.
Selaksa kerinduanku padamu hanya dapat ku obati lewat do’a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar