Rabu, 07 Mei 2014

Embun Yang Hilang

          
Semilir angin  mengelus pipiku. Kupandangi siluet matahari senja yang mulai pulang ke peraduan. Hamparan danau  didepan mata  membawaku pada kenangan masa  lalu. Ya, kenangan sepuluh tahun silam.  Kala itu aku dan adikku serta seorang temannya berlibur mengisi liburan semester ke Maninjau ini. Desa nan asri, desa kelahiran ibuku.
            “Nek, kami bermain dulu ya ” seruku pada nenek yang tengah memasak di dapur.
            “ iya nak, jangan pulang kemalaman ya “.
Maka pergilah aku , adikku Danang ,  temannya yang bernama Andi ke sawah .  Kami berlarian dan memburu belut dengan semangat yang begitu menggebu. Cipratan lumpur tak terelakkan. Seluruh tubuh telah bermandikan lumpur. Kami tak peduli. Berhiaskan canda tawa, hal itu begitu kami nikmati. Andi sangat bersemangat, karena ini adalah kali pertamanya menangkap belut. Sedangkan kami sudah terhitung beberapa kali, saat pulang kampung. Ia masih belum terlalu mahir, tapi agaknya ia sangat senang.
“ Aku dapat dua belut sekaligus” teriak Danang girang.
“  Wah, hebat ya. Aku masih belum nih “ keluh Andi.
“ Heei, aku juga dapat satu ekor ! “ pamerku.
            Danang mendapat belut paling banyak. Ia berhasil menangkap sebelas ekor belut. Dia memang ulet. Aku mendapat enam ekor. Sementara Andi hanya tiga ekor, namun menurutku itu adalah sebuah permulaan yang bagus. Kami berhasil mengantongi dua puluh ekor belut. Hmm, sudah terbayang lezatnya belut goreng di benakku. Saliva memenuhi rongga mulutku. Kupandangi Danang dan Andi. Tampaknya mereka memikirkan hal yang sama denganku.
            Tapi , Hei ! Mereka berdua terlihat begitu kumuh. Aku terkekeh. Benar, tak hanya mereka saja. Aku tidak berbeda dengan mereka berdua. Lumpur dimana-mana. Bau juga mulai menyeruak hidung.
            “Kau siapa? Manusia lumpur dari planet zombie ya?” cemoohku pada Danang.
            “ Kau salah. Aku adalah Superman yang terperosok ke sawah saat menumpas kejahatan” balas Danang dengan irama yang lucu.
Kami tergelak. 
            Setelah berlelah-lelah menangkap belut disawah, kami merebahkan diri di sebuah pondok sejenak. Aku memandangi alam sekitar. Mata ini begitu dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah. Hamparan sawah hijau terbentang, tak jauh nampak pula danau Maninjau yang luar biasa indah. Aku terkesima. Betapa agungnya sang Pencipta semua ini. Angin sepoi-sepoi berhembus. Sejuk nian. Apalagi raga ini lelah. Aku yakin, pastilah juga begitu yang dirasakan Danang dan Andi. Rasa lelah ditingkahi hembusan angin membuat mata merajuk. Akhirnya kami bertiga terlelap pulas. 
            Saat terjaga, hari mulai temaram. Kami bergegas pulang. Jangan sampai tak jadi menikmati belut-belut yang sudah pasti lezat ini. Setibanya kami dirumah, kami disambut Nenek dengan beberapa pisang goreng dan teh hangat. Sembari menunggu belut diolah, kami menikmati panganan dari Nenek. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya hidangan yang ditunggu- tunggu datang juga. Aku tak sabar segera melahap belut yang tampak crispy. Apalagi ada pucuak ubi dan samba lado tokok jariang sebagai teman si belut. Sungguh perpaduan yang sempurna. Hmmm
            Esok hari kami berencana  mendaki gunung. Rasanya tak afdhal kalau libur tak diisi dengan sesuatu yang menantang. Kapan lagi kami merasakan liburan yang berbeda. Jam demi jam pun berlalu. Maka berangkatlah kami ke Koto Baru untuk memulai pendakian kami. Hari sudah temaram ,dan setelah melapor kepada petugas, kami mulai mengayunkan kaki menuju puncak Marapi. Aku berjalan paling depan, karena hanya aku yang pernah mendaki gunung ini sebelumnya, aku didaulat sebagai pemimpin perjalanan kelompok kecil kami.
            Setapak demi setapak badan gunung kami jajaki. Persaan kami bercampur baur. Ada semangat yang masih menggelora, ada rasa tegang, ada pula rasa penasaran melihat matahari terbit di puncak gunung. Yang terakhir ini perasaan Andi dan Danang. Yap, aku sudah pernah menyaksikan hal elok ini dulu. Empat jam sudah kami berjalan. Capai juga rasanya. Kami putuskan untuk beristirahat. Tenda berdiri. Kami membuat api unggun dan mamasak mi instan. Cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Saat sedang asyik bersantap, tiba-tiba beberapa ekor tikus lewat di hadapan kami. Terkejut rasanya.Di tempat setinggi dan sedingin ini ada tikus yang lewat. Bulu kudukku meremang. Sudahlah, kami harus selalu berpikir positif.
            Setelah perut terasa kenyang dan badan cukup segar kembali, kami lanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan entah mengapa keisengan si Andi muncul di saat yang tidak tepat. Ia melempar pisau ke sebuah batang pohon. Tak dinyana, pisau itu berbalik. Untung tak mengenai kepalanya. Kami beristighfar. Susana terasa mencekam. Namun demi mencapai target  yakni sang puncak, kami tetap melanjutkan perjalanan.
            Cukup lama berjalan , akhirnya kami sampai di batu cadas. Medan ini lumayan sulit. Butuh kehati-hatian. Setelah sukses melewati rintangan yang satu ini, kami kembali melanjutkan perjalanan. Semangat kami naik berkali lipat daripada sebelumnya. Betapa tidak, beberapa saat lagi kami akan sampai di puncak Marapi. Detik , menit berlalu. Akhirnya,setengah jam dari batu cadas tibalah kami di puncak. Fajar menyingsing. Kami saksikan matahari terbit demikian eloknya. Menyembul malu-malu memancarkan rona merahnya. Subhanallah. Sangat indah. Rasanya keletihan kami terbayar sudah. Ketika waktu subuh masuk, kami sholat subuh disini. Ya, di puncak sang Merapi. Nikmat nian rasanya.
            Bumi Sumatera Barat begitu indah dilihat dari ketinggian 2.891 m ini. Seindah lukisan yang kini menjadi nyata. Momen ini tak kami sia-siakan. Kami sempatkan mengabadikan keindahan alam ciptaan Nya. Tak lupa , kami potret juga bunga legendaris gunung berapi. Bunga edelweis. Kami juga memetik beberapa tangkai untuk dibawa pulang. Sekedar kenangan dari  gunung api ini.
            Setelah puas memanjakan mata dan berkodak, kami segera pulang. Berjam-jam berjalan, akhirnya kami tiba jua dibawah. Kami singgah di sebuah lapau kecil. Sembari meneguk segelas teh hangt , Andi bercerita.
            “saat mendaki gunung tadi, aku melihat orang bermuka rata”
            “aku juga melihat orang melintas “ celetuk Danang.
Aku terkejut. Ternyata hanya aku yang tidak mengalami hal aneh semacam itu. Syukurlah. Namun setidaknya hal tersebut dapat menjadi pelajaran bagi mereka berdua. Bersikaplah layaknya tamu bilamana pergi ke tempat asing. Jangan pernah iseng di tempat yang bukan tempat untuk iseng.
            Tak  terasa sudah empat hari liburan kami berlalu. Hari ini kami mandi ke danau. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Kami puaskan dahaga bermain air disini. Air bercipratan kemana-mana. Salto dan mencebur ke air juga tak ketinggalan kami lakoni. Danang belum puas. Ia mencari batu yang lebih tinggi untuk meloncat. Setelah dirasa mendapat ketinggian yang cocok, ia melompat. Namun, ia belum juga muncul ke permukaan. Beberapa detik berlalu. Apakah Danang bercanda? Menit akhirnya lewat. Darahku serasa hilang. Aku dan Andi segera mencarinya. Kemana Danang?
            Setelah setengah jam mencari , akhirnya kami menemukannya. Ia begitu pucat. Cemasku sudah sampai di ubun-ubun. Air mata mulai membanjiri pipiku. Sesak rasanya. Untung  tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ternyata Danang adikku tercinta tidak tertolong. Aku tak habis pikir, mengapa hal seperti itu dapat merenggut nyawanya. Kisahku mengarungi hidup bersama sang adik berakhir disini. Duka menyeruak batinku. Tapi, apalah dayaku. Mungkin ini takdir sang illahi. Menjemput adik semata wayangku di beningnya danau Maninjau.

Ya, persis di tempat ku duduk kinilah dulu aku menangisi  kepergian adikku. Sepuluh tahun silam. Air mata jatuh tak dapat ku cegah. Tak sedikitpun terbersit firasat buruk. Aku tak menyangka, liburan kami yang punya banyak cerita berakhir petaka. Aku kehilangan embunku. Penyejuk hidupku. Teman suka duka ku. Saudara serahim. Ah, rasanya ingin kuputar waktu untuk merubah sejarah sepuluh tahun lalu. Namun, sampai kapan pun hal itu tak dapat terjadi . Mungkin ikhlas adalah jalan terbaik. Selamat jalan adikku sayang. Di tepian danau ini ku panjatkan do’a untukmu. Selaksa kerinduanku padamu hanya dapat ku obati lewat do’a.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar