Jumat, 08 November 2013

Secercah Harapan



Suka,duka. Pena yang telah menggores setiap lembar kisah hariku.
Aku..seorang pemimpi.Pemimpi besar. Namun, aku tak tahu cara merealisasikan mimpi tersebut.Kegagalan yang pernah menyinggahiku, agaknya telah menggerogoti kePDanku, membuatku merasa tanganku begitu pendek demi menggapai sebuah asa.
Aku sadar,sadar sesadar-sadarnya, AKU HARUS BANGKIT !!
Namun, hati ini terkadang masih saja sedih, tak rela, dan seonggok sikap negatif lainnya hadir kala aku mengenang mimpiku yang sudah ku planning sedari kecil.
Ketika masih SD saja, aku sudah merancang dimana aku akan memperoleh pendidikan nantinya, dimana aku akan berkuliah, dan lain sebagainya.
          Dulu, aku merasa begitu bersemangat dengan yang namanya sekolah. Aku merasa bisa mejadi orang besar kelak. Yah, memang sebuah pemikiran dari seorang anak . Tak semudah itu tentunya.
          Aku pernah nyantri di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat ini. Hari-hari yang sarat hikmah telah kudapati disana. Bertemu dengan ustadz dan ustadzah yang punya keluhuran budi dan keikhlasan hati. Kembali terngiang olehku kata kata ustadz Ahmad Mubarak ketika memberi kata mutiara di pagi hari . “Man saara ‘ala darbihi washala, man jadda wajada, man ‘arafa bu’da safarin ‘ista’adda”,dan lain sebagainya. Ya, semua itu memang kata motivasi untuk menggapai cita. Alhasil, aku semakin ingin menggapai apa yang aku cita- citakan sedari kecil.
          Aku sangat menikmati setiap detik di pesantren ini sebenarnya. Namun, keinginanku yang sangat menggebu untuk berkuliah di fakultas kedokteran universitas Indonesia membuatku mengambil suatu keputusan yang entah bodoh atau bagaimana. Aku pun tak mengerti. Kala itu, aku memutuskan untuk mengakhiri pendidikanku disana. 3 tahun  kisahku di parabek tercinta berakhir. Aku berniat melanjutkan studiku ke SMA. Sebuah keputusan yang aku sesali di kemudian hari. Ah, aku begitu merindukan belajar nahwu, sharaf, bahasa Arab dan sederet pelajaran khas pesantren lainnya. Aku rindu membuka lembaran kitab kuning yang kini hanya tergeletak tak berdaya.
          Maka, dimulailah kegagalanku satu persatu. Aku membidik dua SMA unggulan di Sumatera barat ini. Entah kenapa, entah aku merasa bisa, atau bagaimana, aku gagal bersekolah di dua SMA tersebut. Padahal , ketika seleksi tahap awal, rangkingku termasuk tinggi. Ranking 30an dari hampir seribu orang pelamar.
Namun, apa daya. Takdir berkata lain. Aku tak lolos. Perih hati ini rasanya , melihat temanku yang notabenenya kemampuannya hampir sama denganku dan bahkan yang dibawahku, lolos. Aku iri, namun tak tahu harus berbuat apa.
          Aku frustasi kala itu. Aku menangis sejadi-jadinya , sampai orang tuaku sedih melihatku. Mungkin sedikit lebay, namun tidak ada yang mengerti betapa inginnya aku mendapatkan apa yang selama ini sudah aku rencanakan. Setelah berusaha menata hati, aku melanjutkan semuanya.
          Lanjut di bangku SMA. Aku menyibukkan hari dengan belajar, juga berorganisasi. Mulai dari OSIS, UKS, English club, forum annisa dan sebagainya telah aku jamahi. Namun, tak kunjung menghilangkan sifat pendiamku yang sudah mendarah daging . Tak lupa, olimpiade Kimia juga aku singgahi, walau seringkali hanya sebagai peramai suasana. Namun, setidaknya aku adalah utusan sekolah . Begitulah caraku menghibur diri. Ironis sekali.
          Tahun demi tahun berlalu. Waktu untuk berkuliah pun tiba. Tentu saja, sesuai mimpiku, aku menuliskan fakultas kedokteran UI. Aku meminta selaksa doa dari ayah ibuku. Aku tahu, tak mudah memang untuk menembus  fakultas ini, namun berbekal rasa ingin yang demikian besar plus harapan “siapa tahu nasibku ada disana” membuatku nekat.
          Bisa diprediksi, gagal lagi. Aku masih bisa menerima ini, karena aku sadar sangat sulit masuk kesana. Akhirnya, terpaksalah aku gugurkan mimpi masa kecilku. Ujian tulis di depan mata. Aku banting setir dengan merubah pilihanku, beralih ke farmasi unpad. Aku sadar, jika aku tetap berkeras hati, aku hanya membuang-buang kesempatan. Akhirnya, tibalah hari pengumuman itu. Lagi, aku gagal. Aku merasa terhempas ke bumi waktu itu. Padahal, TO ku bisa dikatakan lumayan. Dari sekian kali TO,nilai TO terbawahku masih mencukupi untuk farmasi unpad. TAKDIR, mungkin adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hal ini.
          Aku lulus di pilihan ke tiga. Fakultas hukum. Aku tahu, banyak orang luar biasa lahir dari sini. Namun aku sedikit kelimpungan. Begitu banyak materi yang harus dihafalkan. Tak ada secuil pun yang namanya rumus. Menghafal, menghafal, dan menghafal, nyanyian indah yang harus kunikmati setiap baitnya.
Belum lagi, menjadi seorang sarjana hukum perlu kecakapan dalam berbicara. Kontras sekali dengan aku yang tak begitu pandai bercuap – cuap di depan khalayak ramai. Aku lebih nyaman berekspresi melalui tulisan.
          Kini, hariku sebagai seorang mahasiswi telah dimulai. Aku ingin menjadi mahasiswa berprestasi, tapi aku tak tahu, dapatkah tercapai? PD ku sepertinya telah menipis. Semua terbang melayang. Semuanya berantakan. Aku merasa tak punya keistimewaan.  Hafalan Alquranku yang beberapa tahun belakangan telah terbengkalai juga harus ku kemasi lagi. Aku tak mau, pondok menyesal pernah memberiku sebuah bintang emas. 
DISIPLIN, aku harus tanamkan dalam jiwa ini, jikalau tak mau lagi merasakan gagal.
Itulah sekelumit kisahku, semoga kalian yang pernah merasa terpuruk menjadi sedikit terhibur dengan menemukan kisah yang tak jauh berbeda . MARI BANGKIT, mungkin Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah. Jangan berhenti merajut asa, meski banyak ujian mendera. Kau tak sendiri, semua pernah gagal. Percayalah, pelangi kan terbit setelah hujan mengguyur Bumi. MA’ANNAJAAH ! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar