Suka,duka. Pena yang telah menggores setiap lembar kisah
hariku.
Aku..seorang pemimpi.Pemimpi besar. Namun, aku tak tahu cara merealisasikan mimpi
tersebut.Kegagalan yang pernah menyinggahiku, agaknya telah
menggerogoti kePDanku, membuatku merasa tanganku begitu pendek demi menggapai
sebuah asa.
Aku sadar,sadar sesadar-sadarnya, AKU HARUS BANGKIT !!
Namun, hati ini terkadang masih saja sedih, tak rela, dan
seonggok sikap negatif lainnya hadir kala aku mengenang mimpiku yang sudah ku planning sedari kecil.
Ketika masih SD saja, aku sudah merancang dimana aku akan
memperoleh pendidikan nantinya, dimana aku akan berkuliah, dan lain sebagainya.
Dulu, aku
merasa begitu bersemangat dengan yang namanya sekolah. Aku merasa bisa mejadi
orang besar kelak. Yah, memang sebuah pemikiran dari seorang anak . Tak semudah
itu tentunya.
Aku pernah nyantri di sebuah pondok pesantren di
Sumatera Barat ini. Hari-hari yang sarat hikmah telah kudapati disana. Bertemu
dengan ustadz dan ustadzah yang punya keluhuran budi dan keikhlasan hati.
Kembali terngiang olehku kata kata ustadz Ahmad Mubarak ketika memberi kata
mutiara di pagi hari . “Man saara ‘ala darbihi washala, man jadda wajada, man
‘arafa bu’da safarin ‘ista’adda”,dan lain sebagainya. Ya, semua itu memang kata
motivasi untuk menggapai cita. Alhasil, aku semakin ingin menggapai apa yang
aku cita- citakan sedari kecil.
Aku sangat
menikmati setiap detik di pesantren ini sebenarnya. Namun, keinginanku yang
sangat menggebu untuk berkuliah di fakultas kedokteran universitas Indonesia
membuatku mengambil suatu keputusan yang entah bodoh atau bagaimana. Aku pun
tak mengerti. Kala itu, aku memutuskan untuk mengakhiri pendidikanku disana. 3
tahun kisahku di parabek tercinta
berakhir. Aku berniat melanjutkan studiku ke SMA. Sebuah keputusan yang aku
sesali di kemudian hari. Ah, aku begitu merindukan belajar nahwu, sharaf,
bahasa Arab dan sederet pelajaran khas pesantren lainnya. Aku rindu membuka
lembaran kitab kuning yang kini hanya tergeletak tak berdaya.
Maka,
dimulailah kegagalanku satu persatu. Aku membidik dua SMA unggulan di Sumatera
barat ini. Entah kenapa, entah aku merasa bisa, atau bagaimana, aku gagal
bersekolah di dua SMA tersebut. Padahal , ketika seleksi tahap awal, rangkingku
termasuk tinggi. Ranking 30an dari hampir seribu orang pelamar.
Namun, apa daya. Takdir berkata lain. Aku tak lolos. Perih
hati ini rasanya , melihat temanku yang notabenenya kemampuannya hampir sama
denganku dan bahkan yang dibawahku, lolos. Aku iri, namun tak tahu harus
berbuat apa.
Aku frustasi
kala itu. Aku menangis sejadi-jadinya , sampai orang tuaku sedih melihatku.
Mungkin sedikit lebay, namun tidak
ada yang mengerti betapa inginnya aku mendapatkan apa yang selama ini sudah aku
rencanakan. Setelah berusaha menata hati, aku melanjutkan semuanya.
Lanjut di bangku SMA. Aku menyibukkan hari dengan belajar, juga berorganisasi. Mulai dari
OSIS, UKS, English club, forum annisa dan sebagainya telah aku jamahi. Namun,
tak kunjung menghilangkan sifat pendiamku yang sudah mendarah daging . Tak
lupa, olimpiade Kimia juga aku singgahi, walau seringkali hanya sebagai peramai
suasana. Namun, setidaknya aku adalah utusan sekolah .
Begitulah caraku menghibur diri. Ironis sekali.
Tahun demi
tahun berlalu. Waktu untuk berkuliah pun tiba. Tentu saja, sesuai mimpiku, aku
menuliskan fakultas kedokteran UI. Aku meminta selaksa doa dari ayah ibuku. Aku tahu, tak mudah memang untuk menembus fakultas ini, namun berbekal rasa ingin yang
demikian besar plus harapan “siapa tahu nasibku ada disana” membuatku nekat.
Bisa
diprediksi, gagal lagi. Aku masih bisa menerima ini, karena aku sadar sangat
sulit masuk kesana. Akhirnya, terpaksalah aku gugurkan mimpi masa kecilku.
Ujian tulis di depan mata. Aku banting setir dengan merubah pilihanku, beralih
ke farmasi unpad. Aku sadar, jika aku tetap berkeras hati, aku hanya
membuang-buang kesempatan. Akhirnya, tibalah hari pengumuman itu. Lagi, aku
gagal. Aku merasa terhempas ke bumi waktu itu. Padahal, TO ku bisa dikatakan
lumayan. Dari sekian kali TO,nilai TO terbawahku masih mencukupi untuk farmasi
unpad. TAKDIR, mungkin adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hal ini.
Aku lulus di
pilihan ke tiga. Fakultas hukum. Aku tahu, banyak orang luar biasa lahir dari
sini. Namun aku sedikit kelimpungan. Begitu banyak materi yang harus dihafalkan. Tak ada secuil pun
yang namanya rumus. Menghafal, menghafal, dan menghafal, nyanyian indah yang
harus kunikmati setiap baitnya.
Belum lagi, menjadi seorang sarjana hukum perlu kecakapan
dalam berbicara. Kontras sekali dengan aku yang tak begitu pandai bercuap –
cuap di depan khalayak ramai. Aku lebih nyaman berekspresi melalui tulisan.
Kini, hariku
sebagai seorang mahasiswi telah dimulai. Aku ingin menjadi mahasiswa
berprestasi, tapi aku tak tahu, dapatkah tercapai? PD ku sepertinya telah menipis.
Semua terbang melayang. Semuanya berantakan. Aku merasa tak punya keistimewaan. Hafalan Alquranku yang beberapa tahun belakangan telah terbengkalai juga harus ku kemasi lagi. Aku tak mau, pondok menyesal pernah memberiku sebuah
bintang emas.
DISIPLIN, aku harus tanamkan dalam jiwa ini, jikalau tak mau
lagi merasakan gagal.
Itulah sekelumit kisahku, semoga kalian yang pernah merasa
terpuruk menjadi sedikit terhibur dengan menemukan kisah yang tak jauh berbeda .
MARI BANGKIT, mungkin Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah. Jangan
berhenti merajut asa, meski banyak ujian mendera. Kau tak sendiri, semua
pernah gagal. Percayalah, pelangi kan terbit setelah hujan mengguyur Bumi.
MA’ANNAJAAH ! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar