Sabtu, 15 Februari 2014

perjalananku

assalamualaikum..haaai semuanyaa
udah lama ngak posting ya,
ini nih karya aku satu tahun lalu, berkisah tentang seorang anak yang galau buat berkerudung..
pdhal kan, menutup aurat itu wajib hukumnya buat seorang muslimah.
dalilnya :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَفُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَبِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلالِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْأَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيإِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْأَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِالَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَبِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَىاللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)
" Katakanlah kepada wanitayang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, danjanganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlahMenampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atauayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelakimereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidakmempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengertitentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahuiperhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

dan ini dia sebuah karya yang sangat sederhana, namun semoga bermanfaat yaa :)






PERJALANANKU



Hujan deras mengguyur Bumi.Gemericik air  membuyarkan lamunanku. Kala aku menyeruput teh, pikiranku masih saja melayang. Gelisah menggelayuti hatiku. Nina, sahabatku, memutuskan untuk menutup auratnya, secara “kaffah”, katanya. Aku tak begitu mengerti apa maksud ucapannya itu.       
Semua yang telah kami rencanakan, seolah hancur menjadi debu.
Aku tahu, tak ada yang salah dengan jilbab, “identitas seorang muslimah” petuah ustadz-ustadz di surau. Aku sendiri,bukanlah anak yang tak tahu agama sama sekali.Aku tidak pernah meninggalkan shalat, sekalipun. Hanya saja, aku belum mengenakan jilbab. Karena aku merasa belum siap untuk meninggalkan dunia fashion yang sangat aku cintai.
        Dulu, aku dan Nina telah mencanangkan ikrar kami, akan selalu bersama, meggeluti dunia fashion yang sangat kami gandrungi. Prestasi kami semakin harum setelah 2 tahun menggeluti bidang ini. Aku dan Nina adalah model paling favorit yang selalu kebanjiran job. Pundi-pundi uang tak hentinya hadir disetiap langkah kami. Aku dan Nina punya idealisme yang sama, biarlah melenggak lenggok dan bergaya sedikit mengumbar aurat diatas catwalk, asal kami tetap shalat. Yang penting shalat tak pernah terlupakan.
        Namun, hari ini aksi Nina membuatku mencelos. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah mengharumkan namanya, dengan alasan padaku ingin menjalankan perintah agama. Alasan yang klise menurutku. Kalaulah berjilbab itu memang wajib, mengapa malah di negeri kita yang mayoritas muslim tak mengenakan jilbab?bahkan, istri dan anak ustadz-ustadz  dilingkungan rumahku juga tak mengenakan jilbab.
        Menurutku, tingkah polah yang baik, tutur kata terjaga, dan baju yang cukup sopan saja sudah cukup. Tak mesti berjilbab.
Ah, aku masih ingin menjalani pekerjaanku bersama Nina, tapi keputusannya membuatku kecewa.
Hoahm, rupanya rasa kantuk sudah menyerangku. Biarlah, kejadian ini aku abaikan dahulu, aku ingin beristirahat.
***
        Delapan pagi. Waktunya bersiap-siap untuk pemotretan hari ini. Kusambar roti di meja makan, dan segera melesat ke lokasi.
Dalam perjalanan, ku perhatikan hiruk-pikuk kota pagi hari. Ada yang menyita perhatianku kali ini. Mahasiswi-mahasiswi bergaya modis diseberang jalan sana. Pakaian yang sangat menggoda, bahkan dimataku sebagai seorang model. Namun, kepala mereka dibalut jilbab yang sangat pendek. Tak menutupi keindahan tubuh mereka sedikitpun.
Aku tercenung. Dalam hematku, daripada berpakaian seperti itu, lebih baik  terang-terangan tak berjilbab sepertiku, daripada berpenampilan kontras seperti itu, hanya agar tampil cantik.
        Akhirnya, taksi yang kutumpangi berhenti. Di lokasi sudah berkumpul semua kru. Aku segera berbenah. Satu, dua, tiga, setelah beberapa pemotretan , akhirnya sesi ini selesai. Aku lapar. Dimana Nina? Ak ingin mengajaknya makan. Sejenak, aku termangu. Aku sadar, Nina tak bekerja disini lagi.
        Terpaksa aku mengisi perut seorang diri. Entah kenapa, aku merasa kehilangan. Sepi. Nina adalah partner yang sejiwa denganku. Namun, sudahlah. Aku tahu, niatnya baik, walau tak sepenuhnya ku dukung. Mungkin karena aku masih menginkan ia hadir bersamaku disetiap pekerjaan kami. Hmm, perutku sudah kenyang rupanya. Aku mendekati meja kasir dan membayar makananku.
        “Mbak….kasihani kami”, sontak suara itu mengagetkanku. Bagaimana tidak, seorang pengemis tiba-tiba bersimpuh di kakiku, saat aku baru saja melangkah keluar restoran. Dari sudut matanya, sepertinya ia memang membutuhkan bantuan. Tiba-tiba wanita itu pingsan. Aku kaget bukan kepalang. Segera aku bersorak meminta bantuan.
***
        Wanita malang ini segera dilarikan ke rumah sakit. Menurut diagnosa dokter, ia lemas karena berhari-hari tak tersentuh makanan.
Aku beranjak ke kamar bezuk, ingin melihat keadaannya.
Tatkala aku menarik gagang pintu, tiba-tiba seorang gadis memegang tanganku dan berurai airmata.
        “Mbak…yang didalam ibu saya Mbak..,apa Mbak yang membawanya kemari??Terimakasih mbak, terimakasih banyak..”ucapnya dengan suara bergetar. Aku tersenyum. Kugandeng tangannya ke dalam, melihat keadaan ibunya.
***
        2 tahun kemudian…
Setelah pertemuanku dengan ibu beranak itu, aku jadi mengerti, betapa hidup itu penuh makna. Banyak hal yang patut ku contoh dari keluarga kecil bersahaja itu. Dari Hani pula (nama gadis itu), akhirnya kini aku turut berhijab, seperti sahabatku Nina.
        Dulu, sepulang dari rumah sakit itu Hanna bekerja dirumahku. Ingin menebus hutang, katanya. Meskipun aku menolak, ia tetap memaksa.
Dari hari ke hari , aku semakin mengenal Hanna dan Ibunya. Aku terkesima dengan lembut budinya Hanna. Ia mengajariku mulai dari hal kecil hingga keputusan penting dalam hidupku. Pelan-pelan, ia menggiringku untuk memahami arti menutup aurat. Ternyata, teoriku selama ini memang salah. Sangat salah.Kini, ku mantapkan hati menuruti hukumNya , berjuang bersama dua sahabat terbaikku, Nina dan Hanna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar